Senin, 12 Desember 2016

Sedih, Bocah SD Sekarang Ditanya Cita-cita, Ngakunya Ingin Jadi Ketua Geng Motor

Sedih, Bocah SD Sekarang Ditanya Cita-cita, Ngakunya Ingin Jadi Ketua Geng Motor

Pengaruh pergaulan lingkungan, kondisi keluarga yang tak harmonis, dan tontonan televisi memberikan perkembangan buruk buat anak-anak.

Ya, menyedihkan, tapi nyata.

Gede Budi Astawa, pengelola Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Dharma Negara Denpasar, menceritakan hal tersebut.

Ia pernah menangani seorang bocah kelas 3 SD karena terjerat kasus pencurian sebanyak 7 kali.

Yang mengejutkan kata dia, bocah ini saat besar nanti punya cita-cita ingin jadi ketua sebuah geng.

“Kalau seperti contoh baru, Sabtu (10/12) kemarin kami menemukan anak kelas 3 SD mencuri sebanyak 7 kali. Anak ini broken home, dia dengan bangganya memiliki cita-cita jadi pemimpin sebuah kelompok,” kata Gede Budi Astawa dari Puspaga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Minggu (11/12/2016).

Keinginan bocah SD asal Denpasar ini kata Astawa dikatakan dengan serius.

Setelah ditelusuri rekam jejak si bocah yang diketahui tinggal di wilayah kecamatan Denpasar Utara ini adalah korban ketidakharmonisan keluarga.

“Dalam 4 bulan terakhir sudah ada hampir 10 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan ini akan berdampak pada psikologis anak,” imbuhnya di acara Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS), Renon, Denpasar.

Temuan lain Puspaga Denpasar adalah ada seorang remaja berumur 17 tahun yang direkrut menjadi anggota geng motor.


Ia diminta membawa narkoba oleh satu di antara kelompok.

Anak tersebut kata dia sudah direkrut, diberikan kedudukan sebagai koordinator lapangan (korlap).

Ini agar anak tersebut bangga akan posisinya.

“Ini kan sudah berbahaya sekali, jadi ada indikasi sekarang anak-anak dilibatkan dalam sindikat narkoba oleh sebuah kelompok,” ujarnya.

Ia mengatakan, Puspaga ini merupakan lembaga psiko edukasi yang dibentuk Kementerian PPA, dimana sebagai badan pencegahan kepada kekerasan perempuan dan anak.

Menurutnya, Puspaga baru dibentuk bulan Februari 2016 dan berjalan efektif pada Agustus 2016.

“Kami merupakan lembaga pencegahan, dibentuk dari kasus kekerasan anak termasuk kasus Angeline di Bali. Jadi kami juga menerima konsultasi jika ada anak mengalami gangguan psikologis seperti enggak mau makan, mengurung diri di kamar dan lainnya,” ujarnya.

Untuk di Indonesia baru dibentuk di 16 kabupaten/kota dan dua provinsi. Di Bali ada di Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar.

“Dari hasil temuan kami, kekerasan terhadap anak sering terjadi karena pertama, faktor ekonomi keluarga sehingga anak tertekan, selain itu orangtuanya pernah dapat kekerasan dari orangtuanya juga,” jelasnya.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Kota Denpasar, Luh Putu Anggreni mengatakan, tahun 2016 di Bali ada 150 kasus KDRT yang mengarah pada perceraian.


Dari jumlah itu, di Kota Denpasar ada 107 kasus yang terdiri dari KDRT, kekerasan pada anak, dan anak berhadapan dengan hukum.

Untuk di Bali kasus kekerasan terhadap perempuan itu dikarenakan pada kasus perceraian adat dengan pihak perempuan tidak diberikan status yang jelas oleh suaminya.

“Ini pun berdampak pada psikologis sang anak,” ulasnya.

“Jadinya status mereka ngambang, akta enggak punya, KK (Kartu Keluarga) enggak punya. Mereka pengen kawin lagi susah, dan itu ternyata banyak,"

"Kebanyakan kasus KDRT karena kemiskinan dan perselingkuhan yang membuat anak terlantar. Bahkan kami temukan anak kelas 3 SD mencuri itu mereka bahkan tidak takut penjara,"

"Mereka mengatakan ‘berani penjara bu, asal satu minggu saja ya, kan sudah enggak benar ini,” jelasnya menirukan si bocah itu. (*)

Previous
Next Post »